SMK Mudisa Tasyarufkan Dana Pendidikan Puluhan Siswa Potensi Putus Sekolah

Pentasyarufan dana pendidikan di Kantor Layanan Lazismu SMK Mudisa.

Surabaya – Rasa syukur dan haru menyelimuti Kantor Layanan Lazismu (KLL) SMK Muhammadiyah 1 Surabaya yang bertempat di MBC Lantai 3, pada hari Kamis, 25 September 2025. Sekolah kejuruan ini bersama Lazismu sukses menggelar acara pentasyarufan dana pendidikan yang menyasar lebih dari 20 siswa dengan kriteria khusus: yatim, dhuafa, dan siswa yang berpotensi putus sekolah akibat kendala ekonomi.

Acara yang berlangsung khidmat ini menjadi bukti nyata komitmen SMK Mudisa dalam mewujudkan pendidikan yang berkeadilan. Dana yang ditasyarufkan berasal dari zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang dikelola oleh Lazismu SMK Mudisa, yang secara khusus dihimpun dari donatur, guru, karyawan, dan partisipasi aktif wali murid.

Kepala SMK Muhammadiyah 1 Surabaya, Irvandy Andriansyah, S. T., M. T., menegaskan bahwa program ini adalah garansi agar tidak ada satupun siswa yang kehilangan haknya di tengah jalan untuk belajar. “Bagi kami, ini bukan hanya bantuan finansial, melainkan investasi masa depan. Kami hadir untuk memastikan bahwa mimpi anak-anak ini, meskipun lahir dari keterbatasan, tetap bisa diusahakan untuk terwujud. Tidak boleh ada siswa Mudisa yang berhenti karena biaya,” tegasnya penuh ketegasan.

Dukungan signifikan juga datang dari mitra perbankan syariah yang turut hadir dalam acara tersebut. Perwakilan Bank Jatim Syariah Cabang Surabaya, Bu Ninin memberikan apresiasi tinggi terhadap sinergi yang terjalin. Menurut mereka, apa yang dilakukan SMK Mudisa dan Lazismu merupakan investasi sosial yang paling strategis. “kami bangga bisa mendampingi program ini”, ucapnya.

Dana bantuan tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan sekolah vital, mulai dari pembayaran dana pendidikan, uang praktik, hingga pengadaan alat dan seragam sekolah. Bantuan ini diharapkan tidak hanya meringankan beban orang tua, tetapi juga memompa semangat belajar para siswa agar dapat fokus meraih prestasi di bidang kejuruan yang mereka tekuni. Program ini menjadi wujud konkret semangat ‘Fastabiqul Khairat’ (berlomba-lomba dalam kebaikan) dalam lingkup pendidikan. (Risma Nur Izzah)